Rabu, 09 Agustus 2017

Pemoeda – Laskar Pemuda Yang Berusaha Memangkas Eksistensi Produk Asing

Pemoeda / Pemoeda.co.id  adalah sebuah e-commerce B2C yang diciptakan oleh beberapa pemuda Indonesia lulusan Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia dan Bina Nusantara. Pemoeda.co.id bergerak dalam bidang online retail khusus untuk pria. 
Saat ini Pemoeda memiliki sebuah website dengan alamat www.pemoeda.co.id, yang mana  website tersebut masih dalam tahap development dan diperkirakan akan launching di sekitar akhir bulan Agustus 2017. Saat ini tim Pemoeda.co.id sedang fokus mengembangkan produk batik Indonesia. Pertanyaannya, kenapa mereka memilih batik sebagai produk pertamanya? 
Alasan Batik Sebagai Produk E-Commerce
Salah satu co-founder Pemoeda.co.id, Bima Arya Herlambang (CFO), mengatakan bahwa “Batik merupakan produk yang kami kembangkan pertama kali karena adanya fenomena berbahaya yang tidak disadari oleh masyarakat luas, yang mana fenomena tersebut mengancam eksistensi industri batik secara keseluruhan.”
Fenomena yang dimaksud adalah rendahnya frekuensi penggunaan batik sebagai pakaian sehari-hari di berbagai kalangan masyarakat, serta tidak populernya batik di kalangan anak muda.
Ia berpendapat bahwa fenomena rendahnya frekuensi penggunaan batik, serta tidak populernya batik di kalangan anak muda disebabkan oleh satu hal. Yaitu social proof dari masyarakat yang menyatakan bahwa “batik itu identik dengan kegiatan formal”.
Jelas terlihat bahwa animo masyarakat untuk menggunakan batik pada kegiatan-kegiatan formal (acara pernikahan, meeting, seminar, acara kantor, dsb.) lebih besar dan nyata, dibandingkan minat mereka untuk menggunakan batik pada acara-acara yang lebih santai (jalan-jalan ke mall, ngopi di kafe, traveling, main di pantai, dsb.).
Inilah permasalahan yang ingin dipecahkan oleh Pemoeda.co.id. Dimana biasanya sebuah startup mencoba memecahkan masalah user-nya, Pemoeda.co.id mengambil jalan yang lebih nasionalis dengan berjuang untuk membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi industri batik Indonesia.
Citra batik yang identik dengan kegiatan formil, menyebabkan rendahnya frekuensi penggunaan batik, dan tidak populernya batik di kalangan pemuda Indonesia. Kedua fenomena tersebut harus kita teliti dengan lebih seksama.

Masalah Rendahnya Frekuensi Penggunaan batik
Bila dilihat sekilas, memang sepertinya banyak sekali orang yang menggunakan batik. Pekerja kantoran, dosen kampus dan guru sekolahan, di acara pernikahan dan di beberapa kesempatan lain, mungkin anda masih sering melihat batik. Namun sebenarnya justru sebaliknya. Kalau kita lihat, semua kegiatan yang barusan disebut adalah termasuk pada kegiatan formal. Potensi penggunaan batik di masyarakat Indonesia seharusnya jauh lebih besar.
Pasar bagi batik itu sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki agenda untuk datang ke acara-acara formal, atau acara-acara penting. Sehingga bagi orang-orang yang tidak memiliki agenda untuk menghadiri acara seperti itu, kemungkinan besar tidak akan perlu menggunakan batik. Alhasil, bahkan mereka tidak akan terpikir untuk membelinya.
Jika batik tidak hanya identik dengan kegiatan formal, tapi juga identik dengan kegiatan non-formal atau santai, maka penggunaan batik di Indonesia akan meningkat drastis. Kenapa?
Karena batik akan sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih santai. Serta lebih banyak kalangan yang dapat menggunakan batik pada kegiatannya sehari-hari yang tidak formal sama sekali. Sehingga kita bisa simpulkan bila ini terjadi, bahwa target pasar untuk produk batik juga akan bertambah.
Ketika batik juga identik dengan kegiatan-kegiatan non-formil, maka masyarakat tidak perlu takut untuk saltum (salah kostum). Tidak akan ada lagi celetukan-celetukan orang seperti “Lho, pake batik? Rapih banget nih. Mau ke kondangan bos?” ketika kita menggunakan batik ke acara non-formil.
Rasa “pantas” ketika memakai batik diluar acara formal akan meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan batik di acara kasual. Yang mana secara tidak langsung akan meningkatkan frekuensi penggunaan batik, serta penjualan batik secara keseluruhan.
Yang tadinya batik hanya dibeli dan digunakan oleh orang-orang yang pergi ke kantor, pergi ke acara pernikahan, atau acara formal lainnya, kali ini batik juga digunakan oleh orang-orang yang sedang ingin pergi jalan-jalan ke luar kota, jalan ke mall, travelling, atau sekedar bersantai pada Car Free Day di tengah kota.
Karena pasar semakin luas, artinya jumlah pembeli juga meningkat. Sehingga dampak positif akan menyelimuti industri batik Indonesia. UKM-UKM batik akan bisa berkembang pesat, dan tentunya akan bermunculan penerus-penerus pengrajin batik generasi berikutnya, karena dianggap menjadi pembatik itu prospeknya sangat baik. Hal ini akan mencegah punahnya batik Indonesia.
Peningkatan penjualan batik akan meningkatkan PDB Indonesia secara signifikan, lantaran industri batik Indonesia sudah merupakan salah satu pendongkrak perekonomian bangsa.
Intinya, peningkatan frekuensi penggunaan batik inilah yang harus kita capai. Namun pertanyaannya, bagaimana caranya?
Hal ini sebenarnya tidak eksklusif terhadap batik saja. Kontribusi terhadap PDB ini dapat dilakukan melalui banyak sekali jenis produk, seperti kulit mentah, bahan pakaian, bahan makanan, dan masih banyak lagi. Yang penting produk lokal. Secara keseluruhan, yang harus ditingkatkan sebenarnya adalah frekuensi penggunaan produk lokal.
Hanya saja Pemoeda.co.id sudah benar-benar cinta dengan batik, terutama karena batik sudah mendarah daging di hati masyarakat Indonesia. Batik itu sudah hidup selama lebih dari 1200 tahun lho di tanah air! Sampai hari ini, batik masih digunakan sebagai pakaian bertajuk formal.
Sebenarnya hal ini sudah merupakan suatu prestasi bagi masyarakat Indonesia. Karena batik yang notebene merupakan sebuah elemen dari pakaian adat, masih digunakan bahkan di jaman yang sangat modern seperti sekarang. Sebuah budaya yang masih dipertahankan oleh rakyat Indoneisa.
Namun Pemoeda.co.id percaya bahwa prestasi ini dapat jauh ditingkatkan lagi. Yang mana visinya adalah agar batik juga dipandang sebagai atribut yang pantas untuk digunakan diluar kegiatan-kegiatan formil oleh masyarakat.
Jangan sampai seperti sekarang, batik yang terlalu identik dengan kegiatan formal jadi aneh dan tidak wajar ketika digunakan pada acara non-formal.
Frekuensi penggunaan batik akan bertambah secara signifikan apabila batik dijauhkan dari identitas formal. Yang jadi pertanyaan, adalah bagaimana kita dapat menjauhkan kesan formil dari atribut batik?
Masalah Tidak Populernya Batik di Kalangan Anak Muda
Batik tidak populer di kalangan anak muda. Ini adalah sebuah hal yang menjadi perhatian terbesar Pemoeda.co.id. Bahwa kita wajib melihat apa saja kegiatan anak muda di dalam kehidupannya sehari-hari, dan bagaimana atribut batik bisa masuk kedalam kegiatan-kegiatan tersebut.
Kegiatan anak muda yang belum bekerja atau masih umur kuliah kebawah, pada umumnya adalah; pergi ke sekolah/kuliah, pergi les, berorganisasi, kegiatan ekstrakurikuler, bergaul dengan komunitas, ngobrol di kafe, pergi ke mall, makan-makan, nonton, bermain game, jalan-jalan keliling kota, olahraga, dan travelling.
Inilah kegiatan yang pada umumnya dilakukan oleh anak muda Indonesia. Kalau dilihat secara detail, maka hanya satu kegiatan yang benar-benar merupakan kegiatan formal, yaitu sekolah. Kegiatan yang lainnya termasuk pada kategori semi-formal dan santai.
“Batik identik dengan kegiatan formal”, lagi-lagi inilah pokok permasalahannya. Ketika batik identik dengan kegiatan formal, maka batik tidak akan populer di kalangan anak muda yang masih sekolah. Karena para pemuda yang masih menuntut ilmu tidak memiliki agenda kegiatan formal selain sekolah (dan mungkin acara pernikahan keluarga).
Karena absennya acara formal dari kehidupan anak muda yang masih bersekolah, dan karena batik identik dengan acara formal, maka alami dan wajar rasanya apabila batik tidak populer di kalangan anak muda yang sedang menuntut ilmu.
Namun sungguh sangat disayangkan, selain mereka adalah generasi penerus yang harus melestarikan batik di masa depan, generasi ini memiliki jumlah yang tidak sedikit bila diukur dari besar pasarnya. Namun dana yang mereka miliki sebagian besar malah tersedot oleh merek dagang luar.
Dari masalah ini dapat disimpulkan bahwa lagi-lagi batik tidak boleh hanya identik dengan kegiatan formal. Sehingga pertanyaan yang kembali muncul adalah, “Bagaimanakah caranya kita menjauhkan kesan formil dari atribut batik?”
Menjauhkan Batik Dari Kesan Formal
Solusinya menurut Pemoeda.co.id adalah dengan menjauhkan batik dari kesan formal. Tidak lagi batik hanya identik dengan ke kondangan atau ke kantor, tapi juga ke pantai, ke kafe, jalan-jalan di mall, dan kegiatan-kegiatan santai lainnya. “Bahkan kalau perlu, sampai naik gunungpun pakai batik!” Ujar Bima sambil tertawa.
Dalam mewujudkan misinya, Pemoeda.co.id beranggapan bahwa kesan formal yang dipancarkan oleh batik itu sebagain besar berasal dari motif dan potongan bajunya. Motif batik yang banyak ada di pasaran adalah motif yang bertema kultural. Biasanya kultur yang mana, tergantung daerah penghasilnya.
Batik dengan motif-motif asal Solo, Pekalongan, Yogyakarta, Lasem, Madura dan Cirebon yang notebene adalah batik-batik yang dominan berada di pasaran cenderung cocok digunakan untuk acara-acara formal. Karena walaupun sudah menggunakan warna cerah, namun motifnya rumit, atau sebaliknya.
Pemoeda.co.id melihat bahwa batik seperti ini tidak cocok digunakan oleh anak muda dan digunakan pada acara-acara santai. Mengetahui kegiatan anak muda yang kebanyakan adalah kegiatan santai, dan pada kegiatan santai rasanya menggunakan batik dengan motif rumit berwarna gelap akan cenderung terlihat “saltum”, maka batik dengan warna cerah dan motif yang sederhana adalah jawabannya.
Motif yang dibuat tidak perlu kultural dan rumit sama sekali. Tidak perlu ada ornamen-ornamen rumit yang Kejawen. Kita bisa membuat batik dengan selera anak muda. Melihat bagaimana kemeja-kemeja yang digunakan oleh mereka adalah kemeja polos, kotak-kotak atau garis-garis saja. Atau ketika dipantai, mereka menggunakan kemeja Hawaii yang bertema tropis atau gambar keren/lucu yang berulang-ulang. Semuanya terlihat sederhana, tidak rumit sama sekali.
Sehingga batik yang bermotif sederhana adalah jawabannya. “Tinggal bagaimana kita mencari motif sederhana yang tepat, fit yang disukai, dan potongan kemejanya saja sih.” Ujar Chief of Product Pemoeda.co.id, Afid Akbar.
Menurut tim Pemoeda, hal penting lainnya adalah branding dari merek Pemoeda sendiri. “Bagaimana kita merancang sebuah merek dagang yang terasa “muda”, bagaimana agar merek tersebut dapat bergema di target pasarnya. Ini adalah hal yang sangat penting. Agar pesan-pesan nasionalisme yang ingin kita sampaikan bisa dimengerti dan disebarkan di kalangan para pemuda.” Tambah Afid.
Apabila batik sudah dapat diterima sebagai fashion item yang kasual dan dapat digunakan pada berbagai kegiatan, termasuk sebagai streetwear, maka peningkatan frekuensi penggunaan batik dan kepopuleran batik akan meningkat secara signifikan di seluruh penjuru negeri.
Produk Lokal Bagi Pemoeda.co.id
Pemoeda.co.id menyatakan bahwa mereka bukanlah sebuah e-commerce yang akan melulu fokus kepada batik. Sesuai dengan namanya, visi dari Pemoeda adalah menjadi sebuah e-commerce untuk segala kebutuhan pria. Mulai dari pomade, sepatu, jeans, ikat pinggang, jas, dompet, bahkan sampai ke alat cukur dan lain-lain. Uniknya, semua produk pria yang nanti akan dijual hanya produk lokal saja. Tidak ada produk dari luar.
Tim Pemoeda beranggapan bahwa hingga saat ini bangsa ini sedang berperang melawan merek-merek dagang luar. Dimana banyak sekali dana yang dikucurkan oleh para pembeli di Indonesia kepada perusahaan asing. Tidak hanya di bidang fesyen, namun pada berbagai bidang seperti kuliner, teknologi dan sebagainya.
Pemoeda.co.id menganggap bahwa merek-merek dagang lokal harus mengibarkan bendera aliansi, dimana mereka bersama-sama mendukung satu sama lain untuk memangkas eksistensi dan dominasi produk luar di tanah air. Oleh karena itu, mereka berencana untuk menggandeng merek-merek lokal bangsa untuk menjadi partner di website pemoeda.co.id.
Pemoeda.co.id akan meluncurkan websitenya ke pasar di sekitar bulan Agustus atau September 2017. Semoga sukses ya tim Pemoeda!

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Blogger templates

Diberdayakan oleh Blogger.